Langsung ke konten utama

Lokalisasi (kebutuhan, harapan dan pelarian)


Memang masyarakat kebanyakan merasa jijik dan hina ketika mendengar kata lokalisasi, anggapan mereka itu hanyalah tempat kotor yang dihuni oleh orang-orang kotor juga, dan memang benar itulah lokalisasi.yang ada hanyalah psk, germo, musik, dan juga alhohol.
Jauh dari tempat yang “menjijikan” itu apabila kita mau lebih mengenal mereka ternyata mereka sama dengan kita, mereka juga makan nasi, punya harapan namun cara mereka memenuhi itulah yang membuat mereka seperti “berbeda” dengan kita, yang membuat mereka menjadi kaum minorotas namun kehadirannya tetap dibutuhkan.
Tak ada seorangpun yang ingin menjadi seperti itu, mereka seperti itu tak ada alasan lain selain untuk memenuhi kebutuh
an hidup mereka dan juga para anak-anaknya (bagi yang mempunyai anak), mereka rela menjual diri demi sesuap nasi dan menyekolahkan anaknya agar kelak mereka dapat hidup lebih layak, tidak seperti orang tuanya. Karena dengan pendidikan mereka yakin kehidupan putra putinya kelak akan lebih baik.
Hidung belang memang identik dengan para pria, tak lain karena mereka lebih tidak bisa menahan nafsu mereka dibanding dengan wanita, mereka jadi hidung belang pasti ada penyebabnya, hal itulah yang kurang dipahami oleh para istri yang selalu menyalahkan suaminya apabila ada perselingkuhan. Boleh jadi sang istri hanya asal-asalan menjalankan kewajibannya, atau juga sering terlibat perang mulut dengan suaminya, kurang merawat diri merupakan salah satu faktor penyebab kebosanan, jadi mereka lari ke pelukan perempuan lain dalam hal ini menjadi pengunjung lokalisasi.
Memang dunia ini ibarat panggung sandiwara, namun setidaknya kita bisa dengan baik memerankan peran yang telah diberikan kepada kita, ambil hikmah dari fenomena sekitar kita,  bahwa seburuk-buruknya mereka (PSK) mereka masih punya hati nurani, mereka menjadi seperti itu bukan cita-cita melainkan terpaksa, hendaknya dengan gambaran seperti ini kita akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi keadaan mereka yang sesungguhnya.

Komentar